Translate

Minggu, 02 November 2014

Analisis Esai Kerinduan dan Sentimentil Nyanyian Gus Mus Oleh Deki Giatama



Kerinduan dan Sentimentil Nyanyian Gus Mus
Oleh Deki Giatama

            Kyai Mustofa Bisri atau sering disebut Gus Mus, Seorang penyair yang memiliki sebuah prinsip yaitu dengan puisi mengawasi dan mengkritik negeri ini. Gus Mus sangat mencintai negeri ini, namun Gus Mus seakan rindu dengan Indonesia yang seolah-olah sudah berganti muka. Ditunjukan dengan sentimentil Gus Mus bahwa negeri ini seperti sudah mulai tak dicintai bangsanya sendiri. Bagaikan negeri yang tanpa tuan, negeri yang hina dan negeri yang bahkan bangsanya berpaling darinya.
            Nyanyian Gus Mus menggugah memori bangsa Indonesia akan jati diri sebuah bangsa. Bahwa Indonesia adalah tanah air kita, tempat kelahiran kita dan negeri ini merupakan tempat kita hidup. Ketika kita masih duduk dibangku sekolah dasar, kita selalu menyanyikan lagu indonesia. Bagaimana negara ini adalah negara besar, negara yang jaya, selalu jadi kebanggaan bangsa dan Indonesia merupakan tempat kita hidup sampai akhir menutup mata.
Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama, sejak kita disekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikan ketika anak – anak disuruh menyanyi di depan kelas satu persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira, saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu bersama – sama
Sudah lama sekali, pergaulan sudah tidak seakrab dulu lagi, masing – masing sudah terseret kepentingan sendiri atau tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah dimana Tapi masih sangat hafal nyanyian itu sayang
Hari ini, ingin sekali aku menyanyikannya kembali bersamamu

Indonesia tanah air beta
pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
tetap di puja – puja bangsa
disana tempat lahir beta
dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung dihari tua
sampai akhir menutup mata
            Kerinduan akan negeri pusaka, negeri keramat yang dijaga oleh juru kuncinya yaitu bangsa Indonesia itu sendiri. Indonesia adalah negeri yang kaya, gemah ripah lohjinawi, dan negeri impian. Bangsa ini seharusnya bangga akan negerinya, karena di negeri inilah kita hidup, mencari lembaran bernilai, koin-koin penunjang hidup bahkan sampai akhir menutup mata.
            Soekarno menggebu-gebu atas merdekanya Indonesia, Soeharto membangun pondasi bangsa, Habibie mencerdaskan bangsa, Gus Dur melekatkan tali toleransi, Megawati menegakkan emansipasi dan SBY memperkenalkan harumnya indonesia dimata dunia. Lalu apa yang sudah kita lakukan ?, Presiden amerika John F. Kenedy berkata “jangan bertanya apa yang sudah diberikan negara kepada kita, tapi tanyakan apa yang sudah diberikan kita kepada negara ?”. sudahkan kita berpikir kesana ?. Kerinduan rasa bangga bangsanya, Kerinduan cinta bangsanya dan kerinduan akan bangsanya yang jaya. Indonesia rindu akan hal itu.
            Negeri ini banyak berkorban bagi kita, tanahnya kita pakai untuk membangun rumah, batunya kita pakai untuk seni, airnya kita pakai untuk kehidupan, udaranya kita pakai untuk bernapas dan hutan yang kita pakai untuk perut dan harta semata. Ataukah kita gunakan dengan seenaknya saja ?. Namaun sekarang kita lihat bahwa tahnahnya kita pakai untuk membangun kekuasaan, batunya kita pakai untuk menciptakan hujan batu atas nama demokrasi, airnya kita pakai untuk membasahi lawan politik, udaranya yang kita pakai untuk hanya membuang gas, menguap dalam kemalasan dan kentut lalu sembunyi tangan dalam kebodohan para pemimpinya, dan alamnya yang kita pakai untuk keserakahan para pemimpin negeri kita Indonesia. Baik dari kalangan eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Yang semuanya itu saling kongkalikong. Mereka hanya bermodalkan janji manis tapi mereka balas dengan penghianatan. Para pemimpin sibuk mencari uang, bahkan menghalalkan segala cara untuk mengisi kantong mereka yang kelaparan dan terus meminta diisi ulang.
            Nyanyian perasaan menyentuh  Gus Mus, Sampai akhir menutup mata lalu meninggalkan jasanya, pengorbananya dan bahkan hartanya. Tapi jangan malah meninggalkan sekelumit masalah bagi negeri yang tak kunjung selesai jadinya, meninggalkan cacian dan tangisan bagi Indonesia yang dulu diperjuangkan dengan darah. Tapi jadilah seorang Mahasiswa yang mati mewariskan ilmunya, Pemimpin yang mati mewariskan jasanya, Bahkan walau anda seorang tukang sampah harus mati mewariskan keringatnya dan semangatnya. Gus Mus rindu akan pemikiran itu.
            Kini Indonesia seperti dinaungi rasa haru dan iba karena kebencian, rasa dendam dan maraknya rasa tega bangsanya sendiri. Bukan hanya ibu pertiwi yang menangis tapi para kaum adam pun seolah merengek akan keadaan hidupnya. Mereka tak lagi percaya akan masadepan di Indonesia, pesimis mungkin. Bahkan ada saja orang yang menghina negara kita, lalu kita hanya diam. Negeri tetangga terus saja menggeser perbatasan, mengklaim tanah nenek moyang, bahkan budaya negeri ini dicuri oleh negara tetangga atas nama serumpun semata. Dan kita masih saja diam. Malah hinaan yang didapat negeri kita ini, ironis. Lalu kemana para pelindung negeri ini ?, pemimpin kita yang seharusnya melindungi kedaulatan, harkat dan martabat bangsa. Agar hinaan itu minggat dari negeri tercinta. Malah mereka sibuk berbagi kekuasaan atas nama koalisi dan oposisi, bahkan atas nama rakyat mereka jual belikan. Entah sampai kapan akhirnya bangsa ini sadar akan  tingkah lakunya yang menyedihkan. Entah sampai kapan bangsa ini membuka mata dari tidurnya yang kelam. Mungkinkah generasi sekarang mampu merubahnya dan mengembalikan kejayaan Indonesia Raya. Semoga saja.
Aku merindukan rasa haru dan iba ditengah kobaran kebencian dan dendam serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang ngeubah lirik lagu kesayangan kita itu dan menyanyikannya dengan nada sendu
Indonesia air mata kita
bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba – tiba
slalu di hina – hina bangsa
disana banyak orang lupa
dibuai kepentingan dunia
tempat bertarung berebut kuasa
sampai entah kapan akhirnya

Selasa, 11 Februari 2014

Deki Giatama 2



Dia dan Mereka
Karya : Deki Giatama

Dia hannya merajut uang..
sedangkan Mereka merajut keringat..
Dia koruptor..
mereka rakyat..
buayan kata palsu..
janji manis tapi pahit..
malu sudah di tempat sampah..
nurani sudah melarikan diri..
mereka meronta-ronta tak berdaya..
mereka mencari wakilnya..
hilang..
bahkan mungkin mati..
mati wakilnya..
mati hatinya..
kolbunya lenyap..
Mereka hanya minta keadilan..
kesejahtraan..
bukan untaiyan janji manis..
namun berbalas penghianatan..

Senin, 10 Februari 2014

Chairil Anwar 3

DERAI DERAI CEMARA
Karya : Chairil Anwar

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil Anwar 2

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Karya : Chairil Anwar

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabu

Chairil Anwar

AKU
Karya : Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Deki Giatama

"TERKUBUR"
Karya : Deki Giatama

terkadang orang itu lupa bahwa dia hanya sekejap mata di dunia ini..
tak sadar akan pada akhirnya mereka dikubur..
maka kendaraan terakhir mereka adalah keranda..
dan pakaian terindah yang terakhir adalah kain kafan..
dan mereka pun dimanja..
dimandikan..
disolatkan..
ditidurkan..
ingatkah mereka akan hal itu..
sekejap mereka terbayang angan dunia yang begitu gemerlap..
tapi padahal nanti mereka akan terkubur gelap..
dan tidur dengan lelap..