Kerinduan dan Sentimentil Nyanyian Gus Mus
Oleh Deki Giatama
Kyai Mustofa Bisri atau sering disebut Gus
Mus, Seorang penyair yang memiliki sebuah prinsip yaitu dengan
puisi mengawasi dan mengkritik negeri ini. Gus Mus sangat mencintai
negeri ini, namun Gus Mus seakan rindu dengan Indonesia yang seolah-olah sudah
berganti muka. Ditunjukan dengan sentimentil Gus Mus bahwa negeri ini seperti
sudah mulai tak dicintai bangsanya sendiri. Bagaikan negeri yang tanpa tuan,
negeri yang hina dan negeri yang bahkan bangsanya berpaling darinya.
Nyanyian
Gus Mus menggugah memori bangsa Indonesia akan jati diri sebuah bangsa. Bahwa
Indonesia adalah tanah air kita, tempat kelahiran kita dan negeri ini merupakan
tempat kita hidup. Ketika kita masih duduk dibangku sekolah dasar, kita selalu
menyanyikan lagu indonesia. Bagaimana negara ini adalah negara besar, negara
yang jaya, selalu jadi kebanggaan bangsa dan Indonesia merupakan tempat kita
hidup sampai akhir menutup mata.
Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama, sejak kita disekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikan ketika anak – anak disuruh menyanyi di depan kelas satu persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira, saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu bersama – sama
Sudah lama sekali, pergaulan sudah tidak seakrab dulu lagi, masing – masing sudah terseret kepentingan sendiri atau tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah dimana Tapi masih sangat hafal nyanyian itu sayang
Hari ini, ingin sekali aku menyanyikannya kembali bersamamu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama, sejak kita disekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikan ketika anak – anak disuruh menyanyi di depan kelas satu persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira, saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu bersama – sama
Sudah lama sekali, pergaulan sudah tidak seakrab dulu lagi, masing – masing sudah terseret kepentingan sendiri atau tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah dimana Tapi masih sangat hafal nyanyian itu sayang
Hari ini, ingin sekali aku menyanyikannya kembali bersamamu
Indonesia tanah air beta
pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
tetap di puja – puja bangsa
disana tempat lahir beta
dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung dihari tua
sampai akhir menutup mata
pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
tetap di puja – puja bangsa
disana tempat lahir beta
dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung dihari tua
sampai akhir menutup mata
Kerinduan akan negeri pusaka, negeri
keramat yang dijaga oleh juru kuncinya yaitu bangsa Indonesia itu sendiri.
Indonesia adalah negeri yang kaya, gemah ripah lohjinawi, dan negeri impian.
Bangsa ini seharusnya bangga akan negerinya, karena di negeri inilah kita
hidup, mencari lembaran bernilai, koin-koin penunjang hidup bahkan sampai akhir
menutup mata.
Soekarno menggebu-gebu atas
merdekanya Indonesia, Soeharto membangun pondasi bangsa, Habibie mencerdaskan
bangsa, Gus Dur melekatkan tali toleransi, Megawati menegakkan emansipasi dan
SBY memperkenalkan harumnya indonesia dimata dunia. Lalu apa yang sudah kita
lakukan ?, Presiden amerika John F. Kenedy berkata “jangan bertanya apa yang
sudah diberikan negara kepada kita, tapi tanyakan apa yang sudah diberikan kita
kepada negara ?”. sudahkan kita berpikir kesana ?. Kerinduan rasa bangga
bangsanya, Kerinduan cinta bangsanya dan kerinduan akan bangsanya yang jaya.
Indonesia rindu akan hal itu.
Negeri ini banyak berkorban bagi
kita, tanahnya kita pakai untuk membangun rumah, batunya kita pakai untuk seni,
airnya kita pakai untuk kehidupan, udaranya kita pakai untuk bernapas dan hutan
yang kita pakai untuk perut dan harta semata. Ataukah kita gunakan dengan
seenaknya saja ?. Namaun sekarang kita lihat bahwa tahnahnya kita pakai untuk membangun
kekuasaan, batunya kita pakai untuk menciptakan hujan batu atas nama demokrasi,
airnya kita pakai untuk membasahi lawan politik, udaranya yang kita pakai untuk
hanya membuang gas, menguap dalam kemalasan dan kentut lalu sembunyi tangan
dalam kebodohan para pemimpinya, dan alamnya yang kita pakai untuk keserakahan para pemimpin negeri kita
Indonesia. Baik dari kalangan eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Yang
semuanya itu saling kongkalikong. Mereka hanya bermodalkan janji manis tapi
mereka balas dengan penghianatan. Para pemimpin sibuk mencari uang, bahkan
menghalalkan segala cara untuk mengisi kantong mereka yang kelaparan dan terus
meminta diisi ulang.
Nyanyian perasaan
menyentuh Gus Mus, Sampai
akhir menutup mata lalu meninggalkan jasanya, pengorbananya dan bahkan
hartanya. Tapi jangan malah meninggalkan sekelumit masalah bagi negeri yang tak
kunjung selesai jadinya, meninggalkan cacian dan tangisan bagi Indonesia yang
dulu diperjuangkan dengan darah. Tapi jadilah seorang Mahasiswa yang mati
mewariskan ilmunya, Pemimpin yang mati mewariskan jasanya, Bahkan walau anda
seorang tukang sampah harus mati mewariskan keringatnya dan semangatnya. Gus
Mus rindu akan pemikiran itu.
Kini
Indonesia seperti dinaungi rasa haru dan iba karena kebencian, rasa dendam dan
maraknya rasa tega bangsanya sendiri. Bukan hanya ibu pertiwi yang menangis
tapi para kaum adam pun seolah merengek akan keadaan hidupnya. Mereka tak lagi
percaya akan masadepan di Indonesia, pesimis mungkin. Bahkan ada saja orang
yang menghina negara kita, lalu kita hanya diam. Negeri tetangga terus saja
menggeser perbatasan, mengklaim tanah nenek moyang, bahkan budaya negeri ini
dicuri oleh negara tetangga atas nama serumpun semata. Dan kita masih saja
diam. Malah hinaan yang didapat negeri kita ini, ironis. Lalu kemana para
pelindung negeri ini ?, pemimpin kita yang seharusnya melindungi kedaulatan,
harkat dan martabat bangsa. Agar hinaan itu minggat dari negeri tercinta. Malah
mereka sibuk berbagi kekuasaan atas nama koalisi dan oposisi, bahkan atas nama
rakyat mereka jual belikan. Entah sampai kapan akhirnya bangsa ini sadar
akan tingkah lakunya yang menyedihkan.
Entah sampai kapan bangsa ini membuka mata dari tidurnya yang kelam. Mungkinkah
generasi sekarang mampu merubahnya dan mengembalikan kejayaan Indonesia Raya.
Semoga saja.
Aku merindukan rasa haru dan iba
ditengah kobaran kebencian dan dendam serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang ngeubah lirik lagu kesayangan kita itu dan menyanyikannya dengan nada sendu
Hingga kini ada saja yang ngeubah lirik lagu kesayangan kita itu dan menyanyikannya dengan nada sendu
Indonesia air mata kita
bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba – tiba
slalu di hina – hina bangsa
disana banyak orang lupa
dibuai kepentingan dunia
tempat bertarung berebut kuasa
sampai entah kapan akhirnya
bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba – tiba
slalu di hina – hina bangsa
disana banyak orang lupa
dibuai kepentingan dunia
tempat bertarung berebut kuasa
sampai entah kapan akhirnya